3 Segi Ceria dan 2 Catatan Gelap untuk AC Milan

oleh -889 Dilihat

3 Segi Ceria dan 2 Catatan Gelap untuk AC Milan

BabonBola – Laga Serie A di antara Juventus menantang AC Milan di Allianz Fase akhir minggu tempo hari berakhir tanpa gol, tapi tersisa banyak narasi dibalik score 0-0 itu. Ke-2 team memang tidak berhasil menyajikan pertandingan yang betul-betul melipur, tetapi Milan sebetulnya bisa pulang dengan 3 point andaikan kesempatan-peluang emas mereka tidak kebuang sia-sia.

Set pertama jalan berhati-hati, dengan kurang kesempatan bermakna. Tetapi, intensif bertambah di babak kedua saat Mike Maignan lakukan pengamanan hebat untuk menepiskan tendangan jarak dekat Federico Gatti, dan Milan mendapat kesempatan terbaik lewat penalti Christian Pulisic yang sayang meleset dari target. Rafael Leao juga tidak kalah sial, tidak berhasil menyelesaikan dua peluang yang semestinya menghasilkan gol.

Walau demikian, hasil seimbang ini perpanjang catatan tidak pernah kalah Milan sekalian menambahkan daftar clean sheet mereka musim ini. Di lain sisi, posisi pucuk klassemen sementara harus dilepaskan. Dari tanding tanpa gol itu, ada lima hal yang dapat diambil — tiga berharga positif, dan dua menjadi catatan negatif.

Pertahanan Jadi Dasar Kuat Milan

Barisan belakang AC Milan memperlihatkan lagi kekuatan yang membuat musuh frustrasi. Juventus hampir tidak punyai ruangan untuk membuat kesempatan bersih, terkecuali satu peristiwa saat bola jatuh di kaki Federico Gatti, tapi Mike Maignan menepiskannya dengan refleks mengagumkan.

Itu menjadi clean sheet ke-5 dari 6 laga paling akhir Milan, dengan salah satu gol yang bersarang tiba dari penalti waktu hadapi Napoli. Maknanya, mereka belum kecolongan dari open play lebih dari 540 menit.

Trio bek tengah bekerja efektif tutup ruangan, sedangkan Alexis Saelemaekers dan Davide Bartesaghi disebelah sayap sukses menekan gerakan Yildiz dan Conceicao. Sebuah perform protektif yang disiplin dan terorganisir — jati diri yang balik terlihat di dalam permainan Milan.

Supremasi Milan di Baris tengah

Walau kepenguasaan bola jalan relatif imbang, Milan terlihat lebih menguasai di baris tengah. Kedatangan Cedera Modric menjadi faktor pembanding. Pemain dari Kroasia itu mendikte lagi tempo permainan sepanjang 90 menit penuh, dengan operan panjang cermatnya ke Santiago Gimenez yang berbuntut penalti.

Modric bahkan juga nyaris menulis assist seandainya Rafael Leao dapat semakin tenang dalam penuntasan akhir. Di lain sisi, duet Adrien Rabiot dan Youssouf Fofana tampil kompak. Rabiot mungkin tidak begitu menonjol, tapi andilnya dalam bertahan dan atur irama masih tetap berasa.

Keseluruhannya, bidang tengah Milan tampil lebih punya pengaruh dibandingkan Juventus. Namun, supremasi itu tidak cukup buat hasilkan kemenangan.

Santiago Gimenez Mulai Perlihatkan Perubahan

Santiago Gimenez memanglah belum menambahkan gol sesudah membobol gawang Lecce, tapi performnya memperlihatkan kenaikan krusial. Dia tampil penuh optimis, berani melawan baris belakang Juventus, dan hampir cetak gol sesudah melalui sejumlah pemain saat sebelum sepakannya dihalau penjaga gawang.

Di set ke-2 , striker asal Meksiko itu nyaris cetak gol melalui tandukan yang cuma meleset tipis dari tiang gawang. Selainnya teror secara langsung, Gimenez aktif dalam pressing, rajin meredam bola, dan menjadi penyebab gempuran melalui gerakan cerdasnya.

Dia bahkan juga menjadi pemain yang memenangi penalti untuk Milan. Allegri nampaknya mulai menyimpan keyakinan besar padanya, apabila trend ini bersambung, bukan mustahil beberapa gol dari Gimenez akan selekasnya mengucur.

Pulisic dan Permasalahan Penalti Milan

Christian Pulisic menjadi satu diantara nama yang paling disoroti sesudah pertandingan. Sesudah tampil bagus pada beberapa minggu paling akhir, ini kali dia tidak berhasil menjalankan pekerjaan sebagai pelaksana eksekusi penalti. Tendangannya meleset jauh dari gawang, walau sebenarnya kesempatan itu dapat menjadi kunci kemenangan Milan.

Walau demikian, reaksi Pulisic pasca-kegagalan cukup positif. Dia coba bangun, membawa bola melalui sejumlah pemain Juventus, lantas melepas shooting keras rendah yang sanggup dihalau Di Gregorio. Walau begitu, permasalahan di titik putih ini bukanlah hal baru untuk Milan.

Musim kemarin saja, Milan tidak berhasil menyelesaikan empat penalti dari 9 peluang. Sekarang, mereka mengawali lagi musim dengan 1 ketidakberhasilan dari 1 eksperimen — bermakna tingkat kesuksesan cuma 50 % di dalam 10 penalti paling akhir.

Secara pribadi, catatan Pulisic sebenarnya baik: 13 penalti sukses dari keseluruhan 15 eksperimen sepanjang profesinya. Oleh karenanya, ketidakberhasilan ini kali lebih patut disebutkan kejadian tunggal daripada trend mencemaskan.

Leao Belum Kembali lagi ke Perform Terbaik

Rafael Leao tetap cari sentuhannya sesudah mangkir karena luka. Masuk di set ke-2 , pemain dari Portugal itu diharap menjadi pembanding. Tetapi, dua kesempatan emas yang dia punyai malah kebuang sia-sia.

Pertama, dia tidak berhasil tembak pas target dari dekat. Setelah itu, di peluang ke-2 , sesudah gerakan bagus melalui bek Juventus, tendangan Leao ke arah pas ke penjaga gawang.

Kwalitasnya terang tidak butuh disangsikan, namun pada pertandingan semacam ini, pemain sama kelas Leao diharap sanggup mengonversi minimum satu kesempatan menghasilkan gol. Lumrah jika public memandang performanya ini kali menyebalkan. Walau baru sembuh dan baru bermain sekitaran 40 menit, ketajaman Leao belum juga kembali lagi ke tingkat terbaik.

Tentang Penulis: Babon Bola

Gambar Gravatar
Babonbola.co.id adalah portal berita olahraga yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan menarik seputar dunia olahraga. Dengan tim jurnalis yang berpengalaman, kami menghadirkan berita terbaru tentang sepak bola, bulu tangkis, balap motor, basket, dan berbagai cabang olahraga lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.