King Kev Pamit

oleh -760 Dilihat

King Kev Pamit

BabonBola – Malam itu, Kevin De Bruyne tidak dapat meredam air mata. Si pakar Belgia sah akhiri aksinya sepanjang sepuluh tahun bersama Manchester City.

Di tengah-tengah gelora emosi yang banjiri Etihad Fase, ia terima penghormatan paling akhir dari penggemar, rekanan segrup, dan pelatih Josep Guardiola sesudah City menang 3-1 atas Bournemouth.

Walau tidak cetak gol, kedatangan De Bruyne masih tetap menjadi hidangan khusus. Ia mau tak mau ditukar lebih cepat selesai kartu merah Mateo Kovacic, tetapi tepok tangan semarak dan dekapan hangat dari Guardiola menjadi bukti begitu besar jasanya untuk club.

Sisi Kekal Manchester City

“Ini benar-benar emosional,” tutur De Bruyne, seperti diambil BBC Sport. “Patung itu bermakna saya akan menjadi sisi dari club ini.”

Dengan suara tergetar, ia mengutarakan begitu Manchester sudah menjadi rumah untuk keluarganya. “Beberapa anak saya terlahir di sini. Saya dan istri tiba dengan niat tinggal lama, tetapi tidak menduga akan bertahan sepuluh tahun dan raih segala hal dengan club,” ucapnya. Ia juga percaya City terus akan mengambil langkah maju tanpa dianya.

Malam yang Tidak Terlewatkan di Etihad Fase

Malam itu, walau legenda musik Bruce Springsteen sedang manggung di dekat stadion, perhatian masih tetap tertuju pada De Bruyne.

Kaos dan syal tertulis namanya penuhi podium, sedangkan mural raksasanya menghias Northern Quarter Manchester. Club mendokumentasikan namanya di jalan sekolah tinggi dan menyembahkan mosaik khusus buatnya.

Setiap bola sentuh kakinya, penggemar mengharap ia cetak gol atau assist paling akhir. Kesempatan emas juga tiba, tetapi sepakannya justru menghajar garis. “Ini jelek,” akunya sekalian tertawa. “Anak saya pasti menghina saya ini hari.” Tetapi, kekeliruan itu tidak kurangi keelokan malam perpisahannya.

Peninggalan Si Raja

Sepanjang satu dasawarsa, De Bruyne mengumpulkan enam gelar Premier League, 2x dikukuhkan sebagai Pemain Terbaik Musim Ini, dan 3x raih Playmaker Award. Rekor 20 assist dalam satu musim (2019/20) yang ia pegang bersama Thierry Henry menjadi bukti kehebatannya.

“Saya ingin bermain-main dengan kreasi, nafsu, dan kebahagiaan,” katanya.

Saat ditanyakan bagaimana ia ingin diingat, jawabnya sederhana: “Dengan gembira.” Malam itu, penggemar membalas dengan yel-yel, “Kami ingin kau masih tetap di sini!”

Tetapi, King Kev pada akhirnya mengambil langkah pergi, akhiri zaman keemasan di Etihad dengan senyuman dan air mata.

Perpisahan Seorang Legenda yang Namanya Kevin De Bruyne

Micah Richards, bekas bek City, mengaitkan dengan prima: “Ia pemain rendah hati yang bicara melalui tindakan. Tiap orang yang dulu pernah bermain dengannya menyanjungnya.”

De Bruyne mungkin pergi. Malam itu, Etihad tidak cuma kehilangan seorang bintang, tetapi juga seorang legenda.

Tentang Penulis: Babon Bola

Gambar Gravatar
Babonbola.co.id adalah portal berita olahraga yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan menarik seputar dunia olahraga. Dengan tim jurnalis yang berpengalaman, kami menghadirkan berita terbaru tentang sepak bola, bulu tangkis, balap motor, basket, dan berbagai cabang olahraga lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.