Juventus dan DNA Juara yang Perlahan-lahan Sirna
BabonBola – Juventus tetap terdaftar sebagai club tersukses dalam sejarah sepak bola Italia, tapi aura supremasi itu semakin tipis. Juventus sekarang seringkali ada dalam babak cari bentuk, bukan memaksa kehendak di tingkat paling tinggi.
Pada beberapa musim akhir, perolehan prestasi tak lagi searah dengan rekam jejak besar yang menempel. Gelar liga paling akhir pada 2020 menjadi pertanda awalnya masa lebih ringkih, khususnya saat tuntutan paling tinggi tiba di persaingan besar.
Keadaan ini munculkan pertanyaan fundamental mengenai jati diri team. Tidak cuma masalah mekanisme permainan, tapi juga watak pemain yang dulu membuat psikis juara.
Juventus Mulai Kehilangan Jati diri
Juventus menyimpan keinginan pada Luciano Spalletti untuk kembalikan arah club, tetapi ini bukanlah babak pembongkaran pertama semenjak 2021. Kepercayaan diri masih tetap ada, tapi formasi tim sekarang ini belum mendatangkan figure yang membuat musuh merasa terancam.
Di era saat sebelum 2020, hadapi Juventus sama dengan ujian psikis yang berat. Namun, rasa gentar itu perlahan-lahan lenyap karena keteguhan dan ketahanan yang dahulu menjadi keunikan tak lagi konsisten kelihatan.
Permasalahan yang ditemui melebihi faktor tehnis dan strategi. Tetapi, rintangan khusus ada pada rekondisi beberapa nilai intern yang dahulu menjadikan satu ruangan mengganti dan tribune.
Apa yang Lenyap dari Juventus?
Pemerhati Walter Veltroni memandang ada type pemain tertentu yang sekarang tak lagi datang di tim. Dia memberikan contoh figure yang betul-betul sebagai wakil jiwa club dan bawa dampak besar di peristiwa signifikan.
“Lichtsteiner ialah contoh pemain yang merealisasikan Juve, dan Totti sebelumnya pernah menjelaskan dia benar-benar susah ditemui,” kata Veltroni. “Mandzukic sebagai wakil DNA Juventus, dan type pemain semacam itu sekarang tidak ada.”
Veltroni memandang Paulo Dybala sebagai figure paling akhir yang sanggup memperantai emosi dengan kualitas. Menurut dia, Spalletti mempunyai hati dan kepandaian untuk menyambung lagi benang hati yang sebelumnya sempat terputus.
Untuk Juventus, rekondisi jati diri tidak dapat instant lewat hasil satu musim. Tetapi, temukan lagi pemain dengan keberanian, kesetiaan, dan keteguhan menjadi titik kembali yang tentukan arah masa datang club.





